Table of Contents

Hukum Shalat Berjamaah

Hukum Shalat Berjamaah

HUKUM SHALAT BERJAMAAH, WAJIB ATAUKAH SUNNAH?

Tidak disangsikan lagi permasalahan ibadah merupakan inti ajaran Islam. Syari’at sangat memperhatikan permasalahan ini, karena ia merupakan perwujudan aqidah seseorang. Bahkan Allâh Ta’âlâ menjadikannya sebagai tujuan penciptaan manusia, dalam firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan, Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. [QS.Adz Dzariyaat :56]

Diantara ibadah yang agung dan penting adalah shalat, karena ia merupakan amalan terbaik seorang hamba, sebagaimana Rasulullâh shallallâhu ’alaihi wasallâm bersabda:

Artinya: “Beristiqamahlah, dan kalian tidak akan mampu istiqamah yang sempurna. Ketahuilah, sebaik-baiknya amalan kalian adalah shalat, dan tidaklah menjaga wudhu kecuali seorang mukmin. [Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, kitab Thaharah wa Sunanuha, bab Al-Muhafadzah ‘alal WudhuNo. 253, Ahmad dalam Musnad-nya no. 21400 dan 21344, dan Ad-Darimi dalam Sunan-nya, kitab Thaharahbab Ma Ja’a fith Thuhur no.653]

Apalagi shalat telah diwajibkan Allâh terhadap kaum mukminin, sehingga sudah selayaknya kita memperhatikan permasalahan ini. Tentunya berharap dapat menunaikannya secara sempurna.

Kedudukan Shalat dalam Islam
Shalat tidak diragukan memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Ia adalah rukun kedua dan tiangnya agama. Rasulullâh shallallâhu ’alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “Pemimpin segala perkara (agama) adalah Islam (syahadatain), dan tiangnya adalah shalat.“ [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Al-Iman bir-Rasulillâh shallallâhu ’alaihi wasallam no. 3541, dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 21054. At-Tirmidzi berkata: “Ini hadits hasan shahih.”]

Seluruh syariat para Rasul menganjurkan dan memotivasi umatnya untuk menunaikannya, sebagaimana Allâh berfirman menjelaskan do’a Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Artinya: “Yâ Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, yâ Rabb kami, perkenankan do’aku. [QS. Ibrahiim : 40]

Dan Allâh Ta’âlâ mengisahkan Nabi Ismail ‘alaihissalâm:

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

Artinya: “Dan ia menyuruh ahlinya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang di ridhoi di sisi Rabbnya. [QS.Maryam :55]

Demikian juga menyampaikan berita kepada Nabi Musa ‘alaihissalâm:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

Artinya: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allâh, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. [QS. Thaahaa : 14]

Nabi Isa ‘alaihissalâm menceritakan nikmat yang beliau peroleh dalam ayat Al-Qur’an yang berbunyi:

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ ‎وَأَوْصَانِي بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

Artinya: “Dan dia menjadikan aku seorang yang berbakti di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup” [QS. Maryam : 31]

Bahkan Allâh Ta’âlâ mengambil perjanjian Bani Israil untuk menegakkan shalat. Allâh Ta’âlâ berfirman:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلا قَلِيلا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu), ”Janganlah kamu menyembah selain Allâh, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. [QS. Al-Baqarah : 83]

Demikian juga Allâh perintahkan hal itu pada Nabi Muhamad shallallâhu ’alaihi wasallam dalam firman-Nya:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat, dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa. [QS. Thaha : 132]

Demikian tingginya kedudukan shalat dalam Islam, sampai Rasulullâh shallallâhu ’alaihi wasallam menjadikannya pembeda antara mukmin dan kafir. Rasulullâh shallallâhu ’alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “Perjanjian antara aku dan mereka adalah shalat barang siapa yang meninggalkannya maka telah berbuat kekafiran.“ [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Jami’-nya (Sunan-nya), kitab Iman bir-Rasulillâh bab Ma Ja’a fi Tarki Shalat no. 2545, dan An Nasa’i dalam Sunan-nya kitab Shalat, bab Al-Hukmu fi Taarikis Shalat no. 459 dengan sanad yang shahih]

Memang orang yang meninggalkan shalat akan lebih mudah meninggalkan yang lainnya, kemudian terputuslah hubungannya dari Allâh Ta’âlâ. Abu Bakar Ash-Shiddiq menyatakan dalam surat beliau kepada Umar: “Ketahuilah, perkara yang paling penting padaku adalah shalat, karena orang yang meninggalkannya akan lebih mudah meninggalkan yang lainnya. Dan ketahuilah, Allâh Ta’âlâ memiliki satu hak di malam hari yang tidak Dia terima di siang hari, dan satu hak di siang hari yang tidak diterima di malam hari. Allâh tidak menerima amalan sunnah sampai menunaikan kewajiban.” [Dinukil oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 22/40]

Sumber : https://cloudsoftwareprogram.org/

Wardan Pendidikan