Kebangkitan Kembali Dakwah Agitasi Politik

Kebangkitan Kembali Dakwah Agitasi Politik
Kebangkitan Kembali Dakwah Agitasi Politik

Suasana kehidupan dalam penjara bagi Ali Balhaj dan kawan-kawannya adalah suasana menumpuk kebencian dan dendam atau dalam istilah populernya adalah Barisan Sakit Hati (BSH). Semangat kebencian dan dendam semakin tinggi, karena sehari-harinya mereka melahap buku-buku karya Sayid Qutub, Hasan Al Bana, ‘Abdul Qadir ‘Audah, Muhammad Al-Ghazali rahimahumullah wa ghafarahum (semoga Allah merahmati dan mengampuni mereka). Juga buku-buku karya Doktor Yusuf Qardawi hadanallahu wa iyyahu (semoga Allah menunjuki kita dan dia). Sehingga ketika pada akhir tahun 1987 M / 1407 H, Ali Balhaj dan kawan-kawannya keluar penjara, mereka mulai bangkit kembali melancarkan dakwah agitasi politik. Abbas Madani yang semula berselisih dengan Balhaj, bersatu demi tujuan dan program yang sama. Ia, Madani adalah termasuk tokoh yang menyeru kepada persatuan Sunnah-Syi’ah sebagaimana umumnya para tokoh Ikhwanul Muslimin. Kedua orang ini segera membonceng massa dakwah salafiyah, hingga terjadilah perpecahan di antara kaum salafiyyun karena termakan oleh agitasi Balhaj Cs. Kaum salafiyyun sebenarnya banyak menyadari terjadinya penyimpangan jalannya dakwah salafiyah yang sedang dikendalikan oleh tokoh agitator ini. Akan tetapi, sebagaimana lazimnya, yang termakan oleh agitasi politik lebih banyak sedangkan salafiyyin yang menyadari penyimpangan itu amat sedikit.
Majelis-majelis ilmu yang penuh dengan pengunjung dijadikan ajang pelampiasan kebencian dan dendam terhadap pemerintah. Ummat digirin menuju lubang kebinasaan yang mengerikan. Di atas mimbar-mimbar agitasi politik inilah, ilmu dan ulama Ahlus Sunnah dilecehkan. Rakyat dijejali oleh kebencian dan kecurigaan terhadap pemerintah. Sehingga yang berkembang adalah sikap emosional dan mengikuti hawa nafsu tanpa bimbingan ilmu dan manhaj yang benar. Dengan demikian, Aljazair mulai dibayangi kerusuhan dan kegoncangan politik, sosial, budaya dan ekonomi. Semua ini merupakan makar kaum sosialis komunis terhadap Islam dan kaum muslimin umumnya dan terhadap dakwah salafiyyah dan salafiyyin khususnya.

Pada tahun 1989, melalui plebisit umum, pemerintah mengganti undang-undang dasar negara lama dengan undang-undang dasar baru yang diwarnai oleh liberalisme murni. Hal ini berarti memberi peluang lebih luas bagi dakwah agitasi politik, karena negara mengakui dan memberi ijin berdirinya partai-partai politik. Dengan demikian dakwah agitasi politik yang semula hanya membonceng di berbagai majelis ilmu salafiyyin sekarang mendapat kesempatan untuk tampil dengan wadah yang resmi. Dalam suasana demikian inilah berdiri partai FIS (Front Islamic de Sault) di Aljazair yang didirikan oleh Abbas Madani, Ali Balhaj, Bin Azus dan lain-lain. sementara itu Ikhwanul Muslimin Al-Iqlimiyyin membentuk Rabithah Ad-Dakwah Al-Islamiyah untuk menyatukan berbagai orpol, ormas dan golongan Islam dalam wadah perasatuan. FIS masuk dalam anggota organisasi ini yang di dalamnya bergabung berbagai golongan akidah Sunny, Asy’ari, Rafidhi, Sufi dan lain-lain. Semua golongan ini dipersatukan dengan sihir politik. Rabithah tersebut dipimpin oleh Ahmad Sahnun. Ali Balhaj pernah berkata ketika diwawancarai oleh majalah Al-Bayan, London (edisi 23 th. 1410 H / 1989 M hal. 70) dalam sebuah wawancara: “Apakah Rabithah juga dibangun di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah atau mereka menerima siapa saja sekalipun bukan Sunny di dalam organisasi ini?” Dia menjawab: “Kami berupaya di dalam berbagai pertemuan organisasi ini untuk menjadikan manhaj Ahlus Sunnah itu mendominasi majelis. Hanya ini yang dapat saya jawab sekarang dari pertanyaan anda.” Demikianlah jawaban diplomatis dari Ali Balhaj.

Baca Juga :

Wardan Pendidikan